Selasa, 24 November 2009

Twilight :Cerita Romantis seorang Vampir:


Twilight meruapakan kisah romantis modern antara seorang gadis dan vampire

Bella Swan (Kristen Stewart) berbeda dengan gadis lainnya, tidak pernah bergaul dengan teman sekolahnya di SMA Phoenix. Saat ibunya menikah lagi dan mengirim Bella untuk tinggal bersama Ayahnya di kota kecil Forks, Washington, ia tidak berharap banyak perubahan dalam dirinya. Ketika ia bertemu dengan Edward Cullen (Robert Pattison) yang misterius dan tampan, Edward bukanlah pria yangbiasa ia temui. Edward adalah vampire namun ia tidak memiliki taring dan ia beserta keluarganya memilih untuk tidak mengisap darah manusia

Mereka berdua menjadi sepasang kekasih. Bagi Edward – Bella adalah gadia yang ia tunggu selama 90 tahun – sebagai belahan jiwanya. Namun semakin dekat hubungan mereka – semakin berat usaha Edward untuk mengontrol dirinya. Apa yang akan dilakukan oleh Edward dan Bella saat sekelompok vampir baru lainnya – James (Cam Gigandet), Laurent (Edi Gathegi) dan Victoria (Rachelle Lafevre) – hadir dan mengancam hidup mereka?

Back music one ->  download here

dan edward lagi maen piano download here

RINGTONE BUAT HP -> pas mau terakhir ketika dansa download here

SENANDUNG HARMONI PAGI


SENANDUNG HARMONI PAGI
By : L. L.

Gerbang cahaya mulai terkuak
Saat sang mentari menampakkan pesonanya di ufuk timur
Nyanyian kicauan burung menyambut hangatnya belaian sang surya
Saat itu pula buana mulai berkarya
Hembusan nafas seakan mengawali setiap harmoni kehidupan,
Menggerakkan setiap jiwa
Menggabungkan cipta, rasa & karsa dalam jiwa & raga
Menjadi suatu mahakarya dari sang maestro kehidupan
Untuk dipajangkan pada bingkai kehidupan setiap insan
Udara segar memberi harapan kepada setiap makhluk
Untuk memberikan fenomena pada kanvas bola dunia
Getaran, emosi & naluri melambai-lambai
Seolah sedang menanti dirinya untuk digerakkan oleh setiap ego
Irama & sorakan alam menyambut datangnya sang surya
Tawa sang rembulan menggema pada setiap dinding cakrawala
Gemberia karena berhasil melakukan tugasnya
Melewati misteri & keheningan kegelapan malam
Gita & harmoni kehidupan mewarnai semarak gejolak alam
Setiap insan mulai membuka lembaran baru kitab kehidupannya
Mahligai petualangan kehidupan siap �tuk dilalui
Mustika rahmat & aroma cinta mengiringi perjalanan anak manusia
Bunga-bunga mulai merekah
Membuka hati terhadap datangnya hari yang baru
Bergerak mengikuti iringan sang surya
Seakan rama & shinta yang tak terpisahkan
Rayuan maut pun tak sanggup menggoyahkan sanubari
Tanah menuruti gejolak alam yang dirasakannya
Setiap esensi & elemen yang terkandung di dalamnya
Bersatu padu dalam sebuah formula kemakmuran
Yang memberi kehidupan pada setiap jiwa yang memerlukannya
Angin seakan menari-nari di tengah hiruk pikuknya irama alam
Menari dalam lantunan gemuruh alam & dalam bait-bait rona kehidupan
Bergerak maju dalam budi dan nurani setiap insan
Percikan air membasuh asa yang terdiam membisu
Memberi corak pada cita & impian
Mengalir jauh membawa semangat
Memberi arti pada bias eksotika alam semesta
Mengalir pula setetes embun
Airmata alam yang bahagia dan terharu
Melihat betapa indahnya dinamika pergantian pergerakan alam semesta di pagi
hari

Rabu, 18 November 2009

Aku Cinta DJ Mario


Malam ini, kuhabiskan malamku di klub seperti biasa. Aku Andita, gadis kaya dari keluarga broken home yang mencari pelarian di sebuah klub malam. Papa dan Mamaku mana tahu anak gadisnya ada di sini?! Yang mereka tahu hanya urusan pekerjaan dan segala tetek bengek tentang sidang perceraian mereka. Mana pernah aku hadir dalam pikiran mereka?! Dan mana pernah mereka mengingatku dalam setumpuk rutinitas kerja mereka yang sangat padat?!

Hampir tiap malam aku datang ke klub ini. Berlari dari rumah megah orang tuaku, yang kata orang seperti istana, namun buatku tak lebih dari neraka. Di klub ini aku menemukan kegembiraanku. Tubuhku bergoyang " goyang mengikuti irama musik yang melarutkan frustasiku. Segala kepenatan dan rasa sakit karena masalah orang tuaku bisa bebas kukeluarkan di sini. Tempat ini begitu ramai. Jadi, bukan masalah jika aku berteriak sesuka hatiku. Toh, banyak orang berteriak " teriak sepertiku di tempat ini.

Walaupun hampir tiap malam aku ke klub ini tapi bukan berarti aku tak bisa menjaga diriku. Segala macam narkoba dan minuman keras tak pernah kubiarkan mencemari darahku. Begitu juga free sex yang biasa dilakukan teman " temanku di sini, aku tak berminat untuk mencobanya. Aku hanya ingin bersenang " senang di sini, melupakan neraka itu, bukan untuk mencemari ataupun menjual tubuhku dengan hal " hal yang tidak berguna.

Satu hal yang membuatku begitu senang berlama " lama di klub ini adalah kehadiran seorang DJ yang bekerja di sini. Mario, itu namanya. Pertama kali aku datang ke klub ini, aku masih ingat. Waktu itu aku masih kelas 3 SMA dan itu adalah pertama kalinya aku melihat klimaks pertengkaran orang tuaku hingga terlontar kata "cerai". Mama memergoki Papa sedang kencan dengan wanita lain setelah jam kantor usai. Dan malam itu menjadi malam pertengkaran yang paling hebat yang pernah kulihat. Dari lantai atas aku melihat dengan jelas bagaimana Papa dengan entengnya menampar dan memukul Mama demi menutupi kebohongannya yang terbongkar. Dan Mama yang dalam keadaan terdesak masih mencoba untuk terus mengumpat Papa. Setelah sejam pertengkaran itu berlangsung, mereka masuk dalam ruangan yang berbeda. Karena aku begitu shock, aku memutuskan untuk kabur dari rumah. Waktu itu, entah kenapa aku berjalan menuju klub ini. Waktu itu, aku mendengar alunan musik slow yang menenangkan dari klub ini. Aku pun masuk dan memilih untuk menyendiri di bangku ujung klub ini. Begitu lama aku di sini hingga pagi beranjak datang dan klub ini hampir tutup. Sampai kemudian datanglah seorang cowok menghampiriku. Dia bertanya keadaanku, dan kemudian mengantarku pulang. Sampai akhirnya aku tahu namanya Mario, seorang Disk Jockey yang bekerja di klub ini.

" Hei..!" Sebuah seruan keras yang menghentikan goyanganku terdengar di telingaku. Aku menoleh, Mario rupanya.

" Oh, hei," balasku.

Mario menarik tanganku menepi dari dance floor.

" Kenapa?" tanyaku.

" Kamu ga capek?"

Aku menggelengkan kepalaku.

" Ini nyaris jam dua, Neng," ujar Mario sambil menunjukkan jam tangannya.

Aku melengos acuh. " Aku ga peduli. Aku males kembali ke neraka itu."

Ya, Mario memang sudah tahu semuanya. Sejak malam itu, kami makin akrab. Dan pada dialah aku menceritakan semua kondisiku. Dia dua tahun lebih tua dari aku. Dan dia selalu bisa membuatku tenang dengan kata - katanya.

" Ya tapi kan kamu masih harus kuliah, Neng. Jangan mentang " mentang udah ga SMA jadi mikir bisa pulang kapan aja gitu dong. Kamu jam 10 ada kuliah kan? Ini udah jam dua, mau pulang jam berapa? Emang tugas " tugas kuliahmu udah selesai?"

Aku menggeleng. " Belum. Tapi aku malas ah. Kamu aja yang kuliah sana, nanti isi absenku."

Mario tertawa, " Hahaha"kamu ada " ada aja. Mana bisa kayak gitu?"

" Duh Rio,  kamu kok bawel banget sih?! Kalo aku bilang malas ya malas!"

Mario menatapku dan aku balas menatapnya. " Kamu pasti mau ceramahin aku."

Mario tersenyum dan menggeleng. " Shift kerjaku udah selesai nih. Pulang yuk. Aku capek."

Kupandang Mario dengan tatapan sebal. Dia selalu punya cara untuk membawaku kembali ke neraka itu.

" Gimana kuliahmu, Neng?" tanya Mario dalam perjalanan pulang.

" Biasa aja. Baru juga semester tiga ini."

Mario mengangguk " angguk mendengar jawabanku.

" Kalo masalah Ma"."

" Besok mereka sidang lagi!" kujawab pertanyaannya sebelum Mario menyelesaikan kalimatnya. " Sidang yang terakhir. Sidang yang memutuskan semuanya."

Mario menggandeng tanganku. Air mataku mulai merebak, dadaku mulai sesak.
" Jangan kuatir, aku ada di sini. Aku berjanji akan menemanimu menghadapi semuanya," ujar Mario lembut.

Mario, orang yang selalu ada saat aku sedang membutuhkan pertolongan. Orang yang selalu ada saat aku membutuhkan kekuatan. Orang yang selalu ada bahkan saat aku dalam kondisi paling buruk sekalipun. Orang yang mampu membuatku merasakan bahwa masih ada yang mencintaiku, menyayangiku, dan memperhatikanku.

Pagi ini, aku bertemu Mama di meja makan sebelum aku berangkat kuliah. Wajahnya tampak kuyu, pasti semalam terjadi pertengkaran lagi. Samar " samar aku melihat memar di tangan Mama. Mungkin mereka bertengkar saat aku ada di klub. Dengan enggan aku mendekat, sekedar meneguk segelas susu untuk mengisi perut.

" Pulang kuliah jam berapa, Dit?" tanya Mama ketika aku beranjak pergi.

Aku hanya mengangkat bahuku dengan malas.

" Temani Mama jam 1 siang ini. Kamu juga perlu mendengar keputusan sidang siang ini."

Aku diam saja tanpa memandang wajah Mama. Air mataku mulai merebak. Aku anak tunggal, dan ibuku sendiri memintaku untuk melihat perpisahannya dengan suaminya, ayahku.

" Katakan sesuatu, Andita!" perintah Mama.

" Katakan apa, Ma?! Dita udah bosen sama kata sidang, sidang, dan sidang! Mama pikir aku akan dengan senang hati datang dan melihat perpisahan kalian? Ha?! Aku pikir pergi berhura " hura akan jauh lebih menyenangkan dari pada datang melihat kalian!" jawabku kasar.

" Andita! Dengarkan dan patuhi Mama! Kamu harus dengar keputusan sidang siang ini. Hari ini memutuskan hak asuhmu jatuh ke tangan siapa. Kamu ngerti?!"

" Andita ga peduli! Mama denger? Aku-ga-peduli. Lebih baik aku hidup di jalanan, Ma. Daripada harus memilih satu dari kalian. Aku pergi, Ma,"ujarku sambil pergi meninggalkan Mama. Aku ga mau Mama melihat air mataku.

" Aku ga ngerti harus gimana, Rio. Aku bingung." Aku menangis di depan Mario siang ini.

Sekali lagi dia begitu setia menemuiku seusai kuliah hanya untuk mendengar keluhanku tentang orang tuaku. " Aku pengen datang ke sidang itu, aku pengen ngasih support buat Mama. Tapi" aku ga mau liat orang tuaku cerai."

Aku menutup wajah dengan kedua tanganku, tanda kalau aku sudah putus asa. "Aku harus gimana, Yo?"

" Neng, kalau kamu ada di posisi Mama, apa yang kamu harapkan? Dia sudah diperlakukan tidak baik oleh suaminya, dia tidak mendapat apa yang seharusnya didapat sebagai isteri, apa iya dia juga harus kehilangan apa yang seharusnya dia dapat sebagai ibu?"

Aku menatap Mario dengan tatapan tak mengerti. " Maksud kamu?"

Mario tersenyum. " Saat ini, dia hanya mengharap sebuah dukungan dari orang yang menyayangi dan disayanginya. Siapa lagi kalo bukan kamu, Neng? Anaknya sendiri."

" Jadi, menurutmu aku harus datang ke sidang itu?"

Mario mengangguk.

" Tapi aku ga siap dengan hasil persidangan, Yo."

" Neng, apapun hasilnya, pikirkan nanti saja. Yang penting saat ini adalah bagaimana kamu bisa nunjukin ke Mama bahwa masih ada orang yang peduli padanya. Masih ada kamu yang sayang sama dia."

Aku hanya menggelengkan kepala. Mama sudah terlalu banyak kesakitan karena Papa. Sudah banyak kebohongan yang dilontarkan Papa padaku dan Mama. Oh, Tuhan. Jika memang ini yang terbaik, kuatkanlah aku.

" Aku akan nemenin kamu, Neng," ujar Mario sambil menggenggam tanganku.
Handphoneku tiba " tiba berdering saat aku dalam perjalanan ke persidangan. Ah, telepon dari Mama.

" Halo, Ma? Iya. Andita udah pulang kok. Andita lagi di jalan mau ke pengadilan. Kenapa, Ma?"

Aku terdiam mendengar suara Mama yang terdengar panik.

" Apa, Ma?!! Ya udah, Mama ke sana duluan aja. Dita nyusul ke sana."

"Kenapa, Neng?" tanya Mario.

" Rio, kita puter balik ke Rumah Sakit Tirto Waras sekarang!"
Aku segera turun begitu mobil parkir di depan UGD. Kulihat Mama berjalan menghampiriku dengan tergesa.

" Mama"" Aku memeluk Mama yang menangis di pelukanku.

" Dita, Mama ga tahu harus sedih atau senang dengan kejadian ini. Mama bingung, Dit. Mama bingung. Huhuhu"" Mama tersedu " sedu di pelukanku.

" Andita juga ga tahu, Ma. Yang jelas, semua kejadian pasti ada hikmahnya."
Sore hari ini juga, Mario masih setia ada di sampingku. Aku berdiri di samping Mama yang masih menangis. Sementara aku hanya bisa terdiam melihat gundukan tanah merah, tempat peristirahatan Papa. Siang tadi, sesaat sebelum persidangan, Papa mengalami kecelakaan di jalan tol. Mobil yang dikendarai Papa bertabrakan dengan sebuah truk pengangkut barang yang dikendarai oleh sopir dalam keadaan ngantuk. Dalam kecelakaan itu, ada tiga korban tewas di tempat. Sopir truk yang menabrak Papa, Papa, dan wanita lain itu. Aku masih tak percaya dengan kejadian ini. Rupanya Papa berniat mengantar wanita lain itu pulang sebelum datang ke persidangan.

" Aku bener " bener ga ngerti dengan kejadian ini, Yo," ujarku pada Mario seusai dari pemakaman Papa.

" Tuhan punya banyak cara untuk menyelesaikan masalah umat-Nya, Neng."

" Inikah cara Tuhan menyelesaikan masalah keluargaku yang hancur berantakan?"

Mario mengankat bahunya. " Entahlah, hanya Dia yang tahu. Yang jelas, apapun yang terjadi dalam hidup kita, kita harus bisa mensyukurinya."

Aku hanya mengangguk "angguk mendengar Mario

" Aku seneng deh ngeliat sikapmu menghadapi masalahmu."

" O ya? Kenapa emang?" tanyaku tak mengerti.

" Kamu menghadapi masalah ini dengan caramu sendiri. Cara yang terlihat serupa dengan orang lain yang punya masalah sama, tapi ternyata berbeda."

Aku mengernyitkan dahi tak mengerti. " Apa sih maksudnya?"

" Yaa.. kamu pergi ke klub yang kebanyakan berisi orang " orang putus asa, tapi kamu tidak mencemari dirimu sendiri."

Aku tersenyum mendengarnya. " Iya lah.. kan niatku cuma pengen keluar aja dari neraka itu."

" Tapi sekarang udah ga neraka lagi kan?" Mario menghentikan langkah dan menggenggam tanganku. " Jalani hidupmu bersama Mama, Neng. Buatlah neraka itu menjadi surga bagi kalian berdua."

" Dan kamu, DJ? Selama ini kamu yang menghadirkan surga itu kan dalam hidupku?"

" Aku akan tetap ada di sini, di dekatmu. Menemanimu menghadapi semuanya. Mulai sekarang, jangan ke klub lagi ya."

" Kenapa?"

" Aku ga ingin kamu larut dengan kehidupan malam di klub. Ga baik untukmu. Sudah ada Mama yang lebih butuh kamu untuk menghabiskan malam."

" Tapi kamu""

" Ya aku akan tetap di sana. Itu tempatku bekerja, Neng."

Aku menatap Mario. " Tapi ku ga akan kehilangan kamu kan, DJ?"

Dengan senyum lembutnya Mario menggeleng. " Aku akan memainkan banyak nada yang membuatmu gembira, Neng."

Dan kami pun berjalan bersama bergandengan dengan hati berbunga " bunga. Tuhan memang adil. Dia selalu punya sesuatu yang indah di balik semua kejadian. Dan Mario adalah hal yang paling indah yang dihadirkan Tuhan dalam hidupku. I love you, DJ Mario""

KolomKita.Com " 2009 All Rights Reserved.
Powered by YS Media

A Piece of Love for Arin


Malamku kali ini kembali sunyi. Sang bulan terlihat tersenyum sembari menunjukkan cahayanya yang sengaja mengejekku karena hampir tujuh bulan ini aku sendiri dan sendiri, kesepian dalam hening malam merindukan seseorang yang ruangnya di hatiku belum tergantikan. Kutengadahkan wajahku seraya menikmati pekatnya malam, sejurus kemudian aku terpejam dalam dingin malam menusuk tulang. Matahari itu muncul dalam lamunanku. Bulan itu melambaikan tangannya untukku. Aku bergumam dalam kerinduanku bersama malam.

Matahariku,

Aku sedang memejamkan mata

Kemudian

Kaukah itu?

Terlihat mengacak rambutku, tertawa lepas dan memandangku dengan sorot mata teduh melindungi

Aku menarik bibirku, berikan senyum tulusku

Lalu, kau menarik tanganku

Membawaku bersama mimpimu

Menggenggam tanganku seerat ikatan hati,

Aku merasakan tenang dan tenteram

Aku serasa ingin malam ini turun hujan,

Karena hujan itu indah, hujan itu tenang, hujan itu gemuruh hati, hujan itu air mata

Hujan turun berarti bahwa sedihku, resahku, tangisku, rinduku lenyap dan pecah

Dengar aku Matahariku

Peluk aku, dekap aku, jaga aku..

Karena aku telah mati di rengkuhmu..

Sedetik kemudian aku terlelap dalam mimpi dan harapan yang menggantung dalam nadi.

 ***

Pagi ini aku kembali menyusuri koridor sekolah bersiap duduk berlama-lama hanya untuk ilmu. Lima langkah menuju kelas, pandanganku selalu tertuju pada bangku pojok kanan. Ya, di situlah harapanku. Agaknya pagi ini aku berangkat agak pagi karena kelas masih sepi dan matahariku belum juga datang. Aku meletakkan tasku di bangku pojok kiri. Undian kali ini aku kebagian duduk di pojok belakang. Aku mulai membuka koran yang sengaja kubawa karena kemarin aku belum sempat membacanya.

Eh, da koran baru ya Non? tegur Deny.

Yups Kemaren lum sempet baca, jawabku.

Pinjem donk, sebentar ajah, sahut Deny seraya menunjukkan muka sok imut.

Bibirku manyun beberapa senti namun luluh tiga detik selanjutnya. Kusodorkan koran tersebut dan secepat kilat Deny membawanya ke bangkunya.

Aku terdiam dan tanpa sengaja melayangkan pandangku ke bangku pojok di seberang bangkuku. Ya, bangku yang setiap pagi harus menerima nasibnya untuk kulirik dan kulirik selalu. Aku menyandarkan punggung ke dinding, kali ini tidak melirik tapi memandang. Jam menunjukkan pukul tujuh kurang lima menit. Seseorang berjaket coklat dengan kacamata bertengger di kedua matanya nampak beberapa langkah lagi memasuki kelas. Aku segera mengalihkan pandangku ke objek lain, yaitu koran di tangan Deny. Karena aku, tidak ingin dia memergoki aku sedang memperhatikannya.

Den, udah belum? tanyaku sembari menunjuk koran.

Ahh Bentar donk! jawab Deny ketus.

Uggh Dasar!

Deny hanya menoleh dan memasang senyum gak jelas, sama seperti tadi. Kukira dia emang obsesi untuk jadi imut.

***

Jam pelajaran Bu Iffah, Matematika, aku sengaja keluar karena aku selamat dari cengekeraman iblis remidi yang sekarang melanda delapan orang anak di kelasku. Puji syukur!

Aku duduk di bangku panjang di depan kelas dan mulai melanjutkan membaca koran. Di sampingku ada Eka, Tiwi dan Safi.

Aduh, aku pusing banget Rin! kata Eka sambil memegangi kepalanya.

Aku juga sih sebenernya, tapi abis kena pesona Obama, jadi agak berkurang deh, jawabku seraya menunjukkan koran yang memuat foto Obama, presiden Amerika terpilih ke-44.

EhObama yah! sahut Tiwi sambil melongokkan kepalanya ke koran yang kubaca.

Iyakemaren ndak sempet baca.

Nihbiar nggak nganggur, ujarku sambil menyodorkan bagian koran lain ke Tiwi.

Hehe, ringis Tiwi.

Kemudian aku dikejutkan oleh seorang yang lewat dan menyapa Tiwi. Dia ternyata penghuni bangku yang kupandangi tadi pagi.

Hey Wi. Ikut aku yuk! ajak dia.

Ke mana? tanya Tiwi.

Ke perpus, jawabnya.

Tapi masih baca.

Ayo ga papa! Bacanya di perpus aja.

Tapi ini punya Arin, jawab Tiwi. Seseorang itu kemudian melengos dan meninggalkan kita berempat.

Eh, ke perpus yuk! ajak Elis ke Eka. Tapi, malah Tiwi yang bersemangat.

Yuk!!!

Sejurus kemudian ia meninggalkan koran itu begitu saja dan berjalan bersama Elis menuju perpus. Aku yang saat itu pura-pura tenggelam dalam bacaan koran mencoba menghapus luka gores. Seseorang itu lagi-lagi tak menggubrisku sedikit pun.

Tapi akhirnya ada hasrat yang menuntunku untuk mengikuti ke perpus. Kemudian aku dan Eka segera menyusul mereka. Pemandangan pertama di perpus adalah seseorang itu, koran, dan Tiwi. Beradu dalam satu melodi siang bolong. Aku yang tak rela, segera menenangkan hati dengan pura-pura tenggelam dalam koran. Lagi. Kali ini hatiku berkaca-kaca. Entah kenapa aku tak mau melewatkan sedetik pun untuk tidak memandang dia. Dan untuk pertama kali setelah sekian lama, aku memergoki dia yang juga sedang mengolah pandang kepadaku. Lukaku sejenak sirna dan berbunga.

***

Sore ini, mendung merundung bumi. Aku mengayuh sepeda Phoenix hitamku menyusuri jalanan kota sambil menikmati mendung yang menggantung. Namun, sejenak kemudian aku seperti tersambar petir tanpa kilat. Aku melihat pemandangan asing yang tak pernah aku sangka.

Bruummm!! Suara motor itu mendahului jalanku.

Ternyata seseorang yang kupuja dan kuharapkan, sedang membonceng Tiwi menikmati sore. Dan yang paling menyakitkan, mereka tidak menyapa atau sekedar tersenyum kepadaku. Mereka tenggelam dalam dunia mereka. Kali ini hatiku bukan hanya tergores ataupun berkaca-kaca. Namun, kali ini hatiku benar-benar tertusuk dan menangis.

Matahariku

Secepat itukah aku hilang?

Sementara aku sulit dan sangat sulit untuk mengisi ruang kosong yang kau tinggalkan

Mengenai janji yang kau ucap dulu,

Ternyata kau sudah menemukan matahari lain

Aku menangis dalam mendung, dan aku berharap hujan segera turun. Turun bersama air mataku yang deras. Dan aku bisa menangis sepuasku tanpa ada seorang pun yang tahu.

Kemudian, Tuhan mengabulkan doaku.

***

Aku menggigil dalam dingin malam membeku. Bulan kemudian mendekat dan membelai punggungku. Rasanya aku memang harus bercerita. Tapi tidak!! Bulan sudah mengerti. Tak perlu aku harus bercerita. Aku kembali menengadahkan wajah ke haribaan malam. Memejankan mata dan merasakan hembusan dewi malam.

Matahariku. Seseorang hadir dan mengagetkanku.

 Diam membisu dan kosong.

Seseorang itu menghampiri dan mengacak rambutku. Duduk di sampingku kemudian memandangku. Menatap mataku. Aku kembali menggigil karena dewi malam berhembus terlalu kencang. Seseorang itu meraih tubuhku dan mendekapku dalam dadanya. Memelukku dalam indah dan hangatnya waktu. Kemudian dia membisikkan sesuatu,

A piece of love for you, Dear.

Aku tersenyum kemudian membuka mataku. Bulan masih berada di sampingku, namun segera beranjak dan berpamitan untuk lanjutkan tugas. Sepotong cinta yang indah dari duniaku yang semu. Berharap matahariku akan kembali dalam duniaku yang sebenarnya.

What is love?


What is love? Hampir bisa di pastikan semua insan dalam jagad raya ini pernah merasakan apa itu love. Dengan cinta orang bisa bahagia, tersenyum - senyum, tertawa bahkan ada pula yang menangis tersedu. Cinta bagaikan jailangkung datang tak diundang dan pergipun terkadang tak pernah kita duga. Karena itulah arti cinta menjadi beragam, setiap orang punya pendapat dan asumsi masing - masing.

Cinta sejati sesungguhnya datang dari lubuk hati yang paling dalam, cinta sejati hanya datang sekali dan cinta sejati hanya ada dalam hati dan Cinta adalah anugerah terbesar yang di berikan Tuhan kepada kita.

Kita lahir di muka bumi ini karena cinta
Kita bisa hidup karena cinta
Kita bisa memulai hidup karena ada cinta
Kita mau melakukan sesuatu karena cinta
Kita rela berkorban karena cinta
Kita bahagia karena cinta, dan
Kita bisa bersedih karena cinta.

Setiap pelaku cinta adalah sosok yang nekad dan belajar cari masalah, why? karena cinta adalah hal yang indah namun penuh rintangan untuk mendapatkannya, kecewa dan menyesal adalah perasaan yang paling mungkin akan dirasakan pelaku cinta.

Sang pelaku cinta adalah sosok yang harus rela menghadapi berbagai rintangan yang mendahang, mengorbankan perasaan, waktu dan banyak biaya.

Akhirnya cinta adalah hal semu yang nyata dampaknya, dan....Cinta tak selamnya harus memiliki.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

"Bagaimana Mengubah Modal Rp 350.000,- Menjadi Penghasilan Rutin Rp 75 Juta/Bulan dari Bisnis Sederhana di Internet?" info lengkap Klik disini!

E-book Download "Tehnik Arab-Sudan Untuk Memperbesar Penis + Menambah Ereksi KERAS & KUAT + ML Tahan Lama" klik disini untuk download atau klik webnya disini!

"Anda Dapat Bertambah Tinggi 2 cm s/d 10 cm Dalam Waktu 4 Bulan" Caranya? download ebooknya disini atau Klik disini!

Download Ebook "SOLUSI SOAL CINTA: BUATLAH WANITA JATUH CINTA KEPADA ANDA, Cara Memikat Wanita Idaman" klik disini untuk download atau klik webnya disini

Berita Artikel Unik